Walk in the Talk
Belajar teladan pada Mahatma Gandhi.
Oleh Hendra Madjid*
Siapapun
mengenal Mahatma Gandhi. Tokoh kebangkitan India yang bersahaja. Banyak
pihak menyayangkan kenapa Gandhi tidak pernah mendapatkan Nobel
perdamaian. Tapi semua orang hampir pasti berani menasbihkannya sebagai
tokoh dunia yang berwibawa. Penulis dulu mengira, wibawa Ghandi lahir
dari kepiawaiannya berorasi sehingga mampu “menyihir” jutaan orang.
Ternyata penulis keliru. Orasi Ghandi justru Nampak terlalu biasa untuk
sosok jumawa Kaliber dunia.
Penulispun
semakin bertanya, apa rahsia Gandhi agar didengar. Bukan hanya
didengar, tapi dituruti kata-katanya. Seolah-olah kata-katanya seperti wejangan
kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada ummat Islam. Sampai akhirnya secara
tidak sengaja di bukunya G. Pandev, kami menemukan cerita berikut ini.
Satu
ketika Gandhi didatangi oleh seorang ibu dan anak. Tidak ada masalah
dengan anak ini. Tapi sang Ibu mengeluhkan kebiasaan buruk si anak yang
berlebihan dalam mengkonsumsi garam. Walau sebenarnya anak ibu ini
memiliki sakit yang bisa sewaktu-waktu muncul karena kegemarannya
mengkonsumsi garam. Sudah berulang kali nasihat, larangan bahkan hujatan
yang dilontarkannya pada si anak. Tapi tidak mempan. Dengan membawanya
pada Ghandi, besar harapan sang Ibu agar anaknya segera berubah.
“maaf
Guru, tolong berikan nasihat kepada anakku ini… entah kenapa dia begitu
gemar memakan garam. Padahal sakitnya bisa kambuh karena terlalu banyak
garam…”
Gandhi berujar “Bu, tolong kembali ke sini seminggu lagi….”
Dengan
penasaran si ibu pulang lalu kembali sepekan kemudian. Setelah kembali
menghadap, alangkah bingungnya dia saat Gandhi hanya mengungkapkan:
“Nak… berhentilah makan garam!” dengan nada lembut. Ini
adalah kalimat yang sama dengan apa yang ratusan kali dikeluarkan oleh
sang ibu. Tapi selam ini memang tidak pernah mempan. Sehingga, sambil
menahan kebingungan si Ibu pulang ke rumah sambil berharap anaknya mau
menuruti nasihat Gandhi.
Dan
betul, sebulan penuh si anak tak pernah lagi mengkonsumsi garam. Ibunya
masih heran dan kembali kepada Gandhi. “kenapa bisa? Padahal ini adalah
kalimat yang sama dengan yang sering aku katakana padanya?”. Dengan
senyumnya yang khas, Gandhi lalu berkata “saat kamu datang pertama kali
ke sini, waktu itu aku masih mengkonsumsi garam. Setelah seminggu aku
berhenti memakan garam, barulah aku berani untuk memberikan nasihat
padanya agar tidak memakan garam”. Si Ibu mengerti, bahwa yang selama
ini tidak dimiliki olehnya adalah keteladanan. Sehingga wajar anaknya
tidak pernah mau mengikuti nasihatnya.
Pantaslah
sarja-sarjana India saat ini mampu membuat komputer sendiri, sepeda
motor sendiri, Bajaj sendiri, mobil sendiri, Film sendiri (bollywood)
dan hasilnya tak kalah saing jika dibandingkan dengan produk keluaran
Eropa dan Amerika. Dengan kemandirian seperti ini, ditopang dengan
jumlah penduduk yang besar National Intelligence Coulcil (NIC) mensinyalir India akan jadi salah satu kekuatan besar bersama China pada tahun 2020.
Karena
Gandhi tanpa malu memakai kain kasar untuk memberikan contoh kepada
masyarakat India untuk memakai produk dalam negeri. Kata-kata emasnya
tidak terletak pada kata-kata itu sendiri. Tapi terletak pada laku,
praktek, amal dan cara hidupnya sehari-hari. Para motivator sering menyebutnya sebagai Walk in the Talk. Pembicara mengamal dulu baru menyampaikan.
Barangkali, ada semacam gelombang tertentu yang dikirimkan dari wajah pembicara kepada audiensnya.
Meski tidak melihat zahirnya, tapi penulis yakin orang-orang seperti
Ust. Arifin Ilham juga mengirimkan gelombang itu agar jamaahnya
merasakan apa yang beliau rasa. Termasuk mengamalkan apa yang beliau
sajikan dalam ceramahnya. Atau bagaimana saat Ust. Yusuf Mansur
mendorong ummat untuk bersedekah. Tanpa segan jamaah mengeluarkan isi
kantongnya agar bersedekah. Tentu kita tahu, semua itu terjadi karena
Ust. Yusuf adalah provokator sekaligus pengamal sedekah.
Bagaimana
dengan Nabi Muhammad? Rasa-rasanya kita tidak perlu lagi bertanya
bagaimana beliau mencontohkan dan memerintahkan kepada ummatnya.
Sehingga pengaruhnya mengalahkan tokoh-tokoh besar dunia. Termasuk
penilaian Michael Heart, seorang Kristen yang bahkan meletakkan Isa al
Masih berada di bawah Rosulullah.
Bagi
kita semua, orang-orang yang mengaku beriman dan sering berucap,
berwejangan, Allah telah tandaskan hal ini di dalam Surah Ash-Shaff ayat
2 dan 3.
“Wahai
orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak
kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Wajarlah jika ada yang memberi nasihat kepada orang lain tak ubahnya seperti pribahasa “masuk telinga kiri, keluar telinga kanan”.
Karena kita belum beramal sebelum menyampaikan. Walau tidak selalu
setiap yang kita amalkan akan diikuti orang saat kita sampaikan. Tapi
setidaknya amal menjadi permulaan agar kata-kata kita tak sekadar empty wise alias kebijaksanaan yang kosong. Padahal, empty wise juga akan berakhir pada kemurkaan Tuhan kepada kita seperti yang saya sitir dalam ayat di atas.
Rindulah
kita seandainya pemimpin negeri ini seperti Gandhi. Yang menyerukan
agar berhemat, dan dia mengawalinya dengan laku hemat dalam memimpin
negerinya seperti berangkat dengan mobil yang lebih irit. Rindulah kita
pada pemimpin yang jeli sebelum berpromosi “katakanan tidak pada korupsi”
namun sebelumnya telah mampu membersihkan jajaran partainya dari
koruptor. Atau pimpinan sebuah instansi tertentu yang menyuruh anak
buahnya agar datang tepat waktu ke kantor dengan memberi teladan datang
lebih awal dari jadwal yang telah disediakan.
Perubahaan
ke arah Indonesia yang lebih baik tentu berawal dari perubahan
paradigma masyarakatnya tentang kehidupan. Tapi, paradigma awal yang
mungkin perlu untuk kita renungkan dan amalkan bersama ialah “bisakah
kita berlomba untuk menjadi teladan? Dan menjadikan keteladanan sebagai
Habbits (kebiasaan) kita?”. Jika jawabnya iya, maka lihatlah, dengarlah
dan rasakanlah perubahan itu sedang terjadi di sekitar kita saat ini.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar